Setahu saya, inti dari semua iklan adalah seberapa berhasilkah iklan tersebut menyentuh hati masyarakat. Terkadang suatu iklan tidak perlu panjang lebar menjelaskan detail produknya tetapi mampu secara efektif menaikkan imagenya. Ambil contoh, iklan-iklan Pond’s yang lebih mirip tayangan drama melankolis. Sang sutradara berhasil mengidentifikasi target konsumennya, yakni kaum wanita yang senang hal-hal berbau emosional.
Di kategori produk yang ditujukan bagi laki-laki, iklan yang bisa dibilang menyentuh ialah iklan yang mampu menggugah imajinasi atau ambisi kaum Adam. Iklan-iklan rokok, misalnya.
Sebaliknya, seberapa lengkap pun suatu iklan berhasil menjelaskan keunggulan produknya secara rasional, tetapi kalau membuat konsumen hilang rasa (“ilfil” atau ilang feeling) karena suatu hal sepele, maka pesan iklan itu akan sulit tersampaikan.
Ibu saya pernah terkejut saat pertama kali mencicipi kopi Good Day. Katanya, ternyata kopi itu enak juga. Padahal sebelumnya ia kira tidak enak “(hanya) karena iklannya menyebalkan”.
Iklan SLI 009 yang baru pun saya “rasa” sangat annoying, baik karena pembawaan bintang iklannya maupun karena tindakan ofensifnya terhadap produk-produk SLI lainnya. Karena itu, penjelasan mengenai keunggulan-keunggulan SLI 009 sulit saya terima, meskipun mungkin benar.
Contoh lain, iklan PKS tempo lalu yang kurang-lebih diawali dengan kata-kata, “Akhir-akhir ini, banyak pihak yang mengaku-ngakui keberhasilan swasembada beras. Padahal, tahukah Anda siapa Menteri Pertaniannya? Dialah Anton Apriyantono, kader PKS.”
Pikir saya, apa bedanya antara iklan PKS dan iklan Demokrat (atau Golkar)? Tak ada bedanya, sebab intinya “mengklaim keberhasilan swasembada beras”. Mengapa PKS tidak berpikir untuk menyentuh hati masyarakat dengan cara yang berbeda? Misalnya, redaksinya diubah seperti ini:
“Kami di PKS percaya, bahwa keberhasilan swasembada beras bukanlah keberhasilan Pak SBY, bukan keberhasilan Pak JK, bukan pula keberhasilan Pak Anton Apriyantono, kader PKS yang merupakan Menteri Pertanian. Keberhasilan ini adalah keberhasilan Anda, para petani Indonesia.”
3 Mei, 2009
20 April, 2009
Kala hati lelah menggeluti senja
Belum juga purnama merengkuh singgasananya
Terselip lidah mengacaukan asa
Sampai kapan, katanya
(Apr.17, 09)
1 Januari, 2009
Bagaimana rasanya saat menyadari kita gak lagi berada dalam jajaran generasi “terkecil”?
Tiga hari lalu, untuk pertama kalinya saya bertemu dengan keponakan, alias anaknya sepupu. Umurnya 2 tahun, dan sejak detik pertama kedatangannya ia menjadi satu-satunya pusat perhatian di rumah. Tingkahnya lucu! Saya pernah tertawa saat nonton Empat Mata, tapi tidak pernah begitu terpingkal-pingkal seperti saat nonton ponakanku itu menggoyangkan-goyangkan kepala tatkala mendengar lagu Goyang Duyu-nya Project Pop.
Rasanya aneh ia memanggilku dan adikku Om. Tanteku pun sempat nyeletuk, “Ah, gara-gara lo nih gue jadi dipanggil Andung!” (FYI, Andung means Nenek, bahasa Padang). Padahal sudah 6 tahun “posisi” Andung kosong, persisnya sejak Andungku meninggal dunia. Kini sepertinya lahir atmosfir yang benar-benar baru di rumah.
Aku dan adikku bercanda habis-habisan dengan anak kecil itu. Aku ajari dia untuk memanggil adikku Om Cicak, dan adikku balas mengajarinya untuk memanggilku Om Kodok. Bagian paling lucunya adalah ketika ia ditanya “Kalo kamu siapa?”, dan ia menjawab, Onyet!
Aduh, Raihan, Raihan… Never grow up, Babe! Coz life’s no more funny for an adult.
12 Desember, 2008
“How many roads must a man walk down,
Before you call him a man?
How many seas must a white dove sail,
Before she sleeps in the sand?
…The answer, my friend, is blowin’ in the wind
The answer is blowin’ in the wind”
(Bob Dylan, Blowin’ in the Wind)
Mendengarkan lagu-lagu Dylan, mungkin kita tidak menikmati iramanya. Kita tidak dibuat turut bersenandung. Terkadang nadanya datar, bahkan tak jarang seperti mengigau. Menyanyikannya? Pasti lebih sulit!
Menurut saya, lagu-lagu Dylan bukan untuk dinyanyikan, melainkan untuk “dibaca”. Bacalah saat merenung soal rasisme, kemanusiaan, peperangan, hingga soal “pria berjas hitam panjang” yang mungkin ada di sebelah kita. Ada kekuatan luar biasa di balik kata-katanya.
Dengan gitarnya, Dylan seakan duduk di hadapan saya. Tidak seperti penyanyi dengan fansnya; kami layaknya dua pria yang sedang menunggu kereta atau senja. Kami mengobrol tentang banyak hal; mengapa Hurricane berkulit hitam, mengapa pria berbaju Napoleon memperdaya sang putri “rolling stone”, dan lainnya. Ia terus bertanya dan bertanya. Saya melipat dahi mencari jawaban, tapi sia-sia…blowing in the wind! Pada akhirnya, saya hanya bisa membuka mata sedikit lebih lebar, dan sekadar menyadari keadaan yang sebenarnya.
Mungkin tidak setiap saat saya biarkan Dylan “berceloteh” dengan harmonikanya. Ada kalanya saya berada di puncak mood dan merasa luar biasa ceria; inilah waktunya memutar lagu-lagu Project Pop, Warkop DKI, atau Bryan Adams. Tapi percayalah, sewaktu-waktu kita sedang muak atas keangkuhan orang-orang kaya, atau menjadi saksi bahwa cinta tidak semanis namanya, tak ada salahnya mengajak Dylan untuk menemani kita menahan gelisah.
“I knew a man, Bojangles, and he’d dance for you in worn out shoes.
Silver hair, ragged shirt and baggy pants, that old soft shoe.
He’d jump so high, he’d jump so high, then he’d lightly touch down.
…
He danced for those at minstrel shows and county fairs throughout the South.
He spoke with tears of 15 years of how his dog and him just travelled all about.
His dog up and died, he up and died.
And after 20 years he still grieves.
…
Mr. Bojangles,
Mr. Bojangles,
Dance.”
(Bob Dylan, Mr Bojangles)
10 Oktober, 2008
Saya mengagumi Abu Nawas. Ia adalah ulama, sufi, guru yang alim, sekaligus badut konyol yang sangat cerdas. Ia dekat dengan Raja Harun Al Rasyid, tetapi lebih senang menghabiskan waktunya untuk bergaul dengan orang-orang badui. Dengan cara yang menggelikan, ia menolak sewaktu hendak diangkat menjadi kadi istana (semacam penghulu atau hakim) dan lebih memilih tinggal di desa untuk mengajar murid-muridnya. Dalam bayangan saya, Abu Nawas mungkin mirip tokoh Patch Adams, seorang dokter yang juga dianggap badut gila karena sering bertingkah konyol demi menghibur pasien-pasiennya.
Ada satu kisah Abu Nawas yang saya ingat betul. Wallahu a’lam apakah kisah ini nyata ataukah sekadar karangan Abu Nawas untuk mengajari murid-muridnya. Yang jelas, kisah ini telah menginspirasi saya.
Pada suatu hari, tiga orang datang bertamu ke rumah Abu Nawas untuk mencari jawaban atas suatu persoalan yang mengganjal pikiran mereka. Ditemani seorang muridnya, Abu Nawas menyambut mereka dan mempersilahkan mereka menyampaikan pertanyaan.
Orang pertama berujar, “Wahai Abu Nawas, manakah yang lebih utama, orang yang melakukan dosa-dosa besar atau orang yang melakukan dosa-dosa kecil?”
Jawab Abu Nawas, “Orang yang melakukan dosa-dosa kecil, sebab lebih mudah diampuni oleh Allah SWT.”
Orang pertama puas mendengar jawaban Abu Nawas sebab ia memang yakin seperti itu.
Kemudian orang kedua bertanya, “Wahai Abu Nawas, manakah yang lebih utama, orang yang mengerjakan dosa-dosa besar atau orang yang mengerjakan dosa-dosa kecil?”
Jawab Abu Nawas, “Orang yang tidak mengerjakan keduanya, sebab dengan demikian ia tentu tidak memerlukan pengampunan dari Allah SWT.”
Orang kedua pun puas mendengar penjelasan Abu Nawas.
Giliran orang ketiga bertanya, “Wahai Abu Nawas, manakah yang lebih utama, orang yang melakukan dosa-dosa besar atau orang yang melakukan dosa-dosa kecil?”
Jawab Abu Nawas, “Orang yang melakukan dosa-dosa besar, sebab pengampunan Allah SWT yang diterimanya juga akan besar. Ia sangat beruntung memperoleh rahmat yang demikian.”
Orang ketiga pun puas mendengar penuturan Abu Nawas. Kemudian ia dan dua temannya pamit pulang.
Setelah ketiga orang itu pergi, murid Abu Nawas bertanya, “Mengapa pertanyaan yang sama bisa menghasilkan jawaban yang berbeda-beda?”
(lagi…)
10 Oktober, 2008
Di suatu siang aku berbincang dengan Tj, seorang imaginary friend yang kelihatannya sedang dilanda kesusahan…
Tj : Parah, motivasi gw ilang blas! Mau belajar jadi males, euy…
AF : Wah pasti kesiksa banget tuh! Setengah diri lo merasa harus melakukan sesuatu tapi yang sebelah lagi seperti mati dan gak mau bergerak. Emang kenapa lo harus belajar?
Sebentar lagi kan ujian! Gimana sih…
Itu aja alasan lo?
Uh…iya.
Kalo gitu mending lo main game aja sama gw! Percuma, sampe kuntilanak bangun tidur juga lo kagak bakal bisa belajar!
Hm.. Boleh deh.. main game apa nih?
Yee! BAKA! Bukannya mikir… Setau gw nih ya, lo harus punya alasan yang sangat kuat untuk bisa termotivasi melakukan sesuatu.
Alasan gw kan biar dapet nilai bagus pas ujian?
“Nilai bagus” itu maksudnya apa?
Nilai A.
Kenapa lo harus dapat nilai A?
Ya iyalah harus dapat A, masa’ dong dapat C? Wulan Jameelah juga ngerti kenapa!
Iya tapi sebutin kenapa? Lo udah men-define alasan lo dengan jelas, belum? Maksud gw, “alasan pribadi” lo, dalam konteks kehidupan lo sendiri. Nggak usah me-refer ke orang lain, termasuk ke Wulan Jamaludin itu.
Hm.. Alasan pribadi gw ya…
Biar bisa lulus cum laude?
Nah! Itu.
Oke. Untuk selanjutnya lo harus bisa jawab sendiri. Kenapa harus lulus cum laude? (lagi…)
9 Agustus, 2008
Ada kalanya saya berpikir, mungkin kita telah berbuat kesalahan dengan memerdekakan diri, sebab kemerdekaan ini justru membuat perjuangan kita terhenti.
Dalam sebuah pidato, seseorang bercerita tentang sebuah negeri kayangan yang begitu tenang, damai, dan tentram. Di negeri yang indah itu tak ada panas yang terlalu, juga tak ada dingin yang terlalu. Tak ada peperangan yang harus dihadapi, tak ada perjuangan keras yang mesti dijalani. Cerita itu begitu menghanyutkan, tetapi orang itu mengakhirinya dengan kalimat yang mengejutkan. Dengan lantang ia berkata bahwa negaranya tidak boleh menjadi negeri kayangan semacam itu! Ia ingin bangsanya terus mengalami naik-turunnya perjuangan, sebab dengan begitulah rakyatnya dapat menjadi kuat dan tegar.
Pidato itu diucapkan sekitar tujuh windu yang lalu oleh Bung Karno. Ketimbang mengagumi kemampuan orasinya, saya lebih memilih menghayati makna yang hendak disampaikannya. Bagi saya, pidato itu merupakan ramalan tentang Indonesia di masa depan. Lantas saya, seorang pemuda yang hidup di “masa depan” itu, tak punya pilihan selain mengiyakan kebenaran ramalan tersebut, sebab saya saksikan sendiri Indonesia kini seakan menjadi sebuah negeri kayangan.
Di negeri ini kita punya tentara yang tak pernah berperang. Perjuangan rakyat yang berdarah-darah kini sekadar menjadi sejarah yang bahkan tak menarik untuk dibaca. Para pemimpinnya pun tak lagi merasa perlu berpidato ala Soekarno, membakar semangat rakyat untuk mengangkat senjata, karena perang telah usai dan tentara Jepang sudah lari.
Ini membuat saya termenung di beberapa jeda: bagaimana caranya kini menemukan pahlawan, sementara di negeri ini tak ada lagi perang untuk dimenangkan? Bagaimana mungkin menjadi syahid, sementara tak ada medan jihad tempat kita bisa mati? Dua pertanyaan filosofis ini rasanya menjadi semakin penting untuk segera dijawab, terutama setiap kali saya tergiur janji Allah akan surga bagi para syuhada. Namun, tak mudah untuk menjawabnya.
Tidak saya temukan jawabannya di mana pun, kecuali di mata anak-anak pengemis yang putus sekolah, di tali gantungan seorang ibu yang bunuh diri karena terjerat utang, juga di kabar-kabar buruk mengenai bejatnya praktik peradilan. Inilah medan pertempuran kita! Inilah kesempatan kita untuk memerdekakan bangsa sekali lagi, kemudian mati sebagai syuhada! jerit batin saya saat pertama kali menyadari hal ini.
Perjuangan kaum muda
Sejarah dunia telah membuktikan bahwa setiap zaman memiliki pahlawannya, dan pemuda selalu menjadi bagian terpenting dari kisah-kisah kepemimpinan heroik. Karena itu, aneh rasanya menyaksikan pemuda Indonesia saat ini yang lebih senang mengemis-ngemis meminta kesempatan menjadi pemimpin, ketimbang berupaya meraih prestasi tertinggi untuk membuktikan kepada masyarakat bahwa ia memang layak memimpin.
Kursi-kursi kepemimpinan merindukan segelintir pemuda prestatif. Tidak sesempit pemikiran banyak orang, kepemimpinan tak hanya berkisar pada ranah politik, tetapi juga pada wilayah hukum, teknologi, budaya, sastra─kesemuanya haus akan pemimpin prestatif yang kelak menjadi pahlawan bagi zaman ini.
Namun, seberapa luas pun terbuka kesempatan untuk menjadi pahlawan, pada akhirnya semua bergantung pada keputusan individual kita. Sebab, hidup adalah sekumpulan pilihan. Apakah hanya mau duduk nyaman di menara gading sambil berkomentar dan mengkritik sana-sini? Ataukah mau menyingsingkan lengan baju dan bergabung dengan barisan pejuang, sambil memukul keras-keras genta di negeri kayangan ini untuk membangunkan prajurit-prajurit yang masih tidur? Terserah kita, keduanya adalah pilihan. Hanya saja, tidak pernah ada dua pilihan yang sama baiknya.
Kalaupun kita memilih yang terakhir, masih ada pertanyaan terpenting yang perlu dijawab dengan perbuatan: perjuangan ini adalah perjalanan ribuan mil, lantas kapan kita akan memulai langkah pertama?
4 Juli, 2008
Sudah tau belum? Mozilla telah meluncurkan web browser unggulan terbarunya: Firefox 3. Hebatnya, pada peluncuran itu Firefox 3 berhasil memecahkan rekor Guinness World Record sebab didownload sebanyak 8 juta kali dalam tempo 24 jam saja!
Selain dari segi tampilan, Firefox 3 juga menyempurnakan versi pendahulunya dari segi infrastruktur. Peningkatan performa dan pengurangan memori pun menjadi prioritas utama Firefox 3. Namun, tentunya Firefox 3 masih memiliki persamaan dengan Firefox sebelumnya, yakni gratis!
Penasaran? Download Firefox 3 di sini untuk versi standar,
atau untuk versi Indonesia di sini (
)….. di sini (
)….. dan di sini (
).
3 Juli, 2008
Engrish ialah kesalahan gramatikal bahasa Inggris yang biasa ditemukan di negara-negara Asia Timur, misalnya Jepang. Engrish juga bisa diartikan sebagai cara yang keliru dalam mengungkapkan suatu hal dengan bahasa Inggris.
Istilah Engrish merujuk pada kebiasaan orang Jepang dalam mengucapkan kata “English”, disebabkan dalam bahasa Jepang ada ambiguitas antara bunyi huruf “l” dan “r”.
Klik “more” untuk melihat Engrish lainnya!
3 Juli, 2008
Gila! Ck..ck..ck..! Kok bisa ya??
Begitulah reaksi saya ketika melihat lukisan-lukisan Julian Beever. Seniman asal Inggris ini tidak sekadar pelukis jalanan, tetapi ia benar-benar “melukis di jalanan”!
Lihat lukisan di atas! Jangan pikir itu adalah hasil konstruksi bahan-bahan tiga dimensi! Dengan menggunakan sebuah proyeksi bernama anamorfosis, ia mampu menciptakan ilusi 3D pada lukisan tersebut, bila dilihat dari sudut tertentu.
Inilah yang saya kagumi dari orang Barat: kreatif dan betah menekuni bidangnya dalam-dalam! Kapan ya kita bisa berani seperti mereka?
Btw, saya jadi berpikir untuk mengundang Julian Beever ke Bandung untuk melukisi jalanan Tubagus Ismail yang bopeng-bopeng itu!
(klik “more” untuk melihat lukisan-lukisan amazing lainnya)

