Januari 2008


Siapa sangka seluruh negeri akan berkabung pada hari wafatnya Pak Harto? Media massa pun serempak mengenang kembali jasa-jasa beliau semasa hidupnya. Padahal, hingga menjelang hari-hari akhirnya masih banyak saja berita demonstrasi bernada kecaman terhadap beliau.
Siapa sangka pula orang-orang menangis haru di sepanjang jalan yang dilalui jenazah Pak Harto? Bahkan, banyak dari mereka yang mengajak bangsa memaafkan segala kesalahan beliau. Padahal sebelum hari ini, selama hampir 10 tahun kita nyaris tak pernah mendengar ujaran positif tentang diri Almarhum.
Pada hari berkabung ini tiba-tiba saja terungkap perasaan positif rakyat mengenai sosok Pak Harto…sebuah perasaan yang sejak Reformasi lalu terpendam dalam-dalam di bawah catatan sejarah hitam Sang Jenderal Besar. Seharian saya menyimak televisi, yang ada hanyalah kekaguman orang akan kesederhanaan, ketegasan, keberhasilan beliau memakmurkan rakyat (setidaknya begitulah menurut mereka), serta kedekatan beliau dengan wong cilik.
Rekaman Pak Harto berpidato sesaat setelah lengser, yang menyatakan dukungan dan sikap kooperatif beliau terhadap rencana Jaksa Agung mengusut harta kekayaannya, kembali diputar setelah bertahun-tahun seolah lenyap. Di televisi pula para ahli mengemukakan pandangan out-of-the-box mereka mengenai kebijakan-kebijakan sang mantan presiden, yang berbeda dari pandangan umum selama ini.
Lalu, bagaimana kita seharusnya mengambil sikap? Apakah kita turut hanyut dan melunak dalam suasana simpatik ini, padahal seminggu lalu masih beramai-ramai meneriakkan “gantung Soeharto”? (FYI, saya termasuk mahasiswa yang tidak pernah melontarkan dua kata kasar itu!)
Jujur, saya sendiri sedih menyaksikan pemakaman Pak Harto. Teringat masa-masa kecil yang bahagia di era pemerintahan beliau, ketika saya dan adik saya tidak perlu khawatir kekurangan gizi akibat harga susu melambung tinggi…acara-acara hiburan di TV pun masih cukup sehat untuk dikonsumsi (favorit saya: Si Unyil, Si Komo dan Ksatria Baja Hitam!); bandingkan dengan konten sinetron sekarang yang sakit tetapi menjadi santapan rutin anak-anak.
Masa kecil saya benar-benar jauh dari bayangan depresi; saya leluasa bermain apa saja, membaca apa saja, belajar apa saja demi mengembangkan diri. Saya tak akan lupa betapa meriahnya Hari Anak selalu diperingati setiap tahunnya, dan Pak Harto pun tak pernah luput menghadiri perayaan-perayaan itu.
Pada masa itu pula anak-anak masih menyanyikan lagu-lagu mereka sendiri yang begitu ceria, semangat, imajinatif, dan membangun (favorit saya: lagu-lagu Ibu Sud dan Pak Kasur). Coba bandingkan dengan anak-anak sekarang yang lebih menggandrungi lagu-lagu dewasa yang nakal, cengeng, dan sama sekali tidak cerdas!
Namun, betapapun saya mengagumi kebijakan-kebijakan pemerintahan Pak Harto, di sisi lain saya tetap menuntut diteruskannya peradilan perdata terhadap beliau.
Sama sekali bukan sebuah dilema atau konflik batin, ketika kita mengagumi beliau dalam hal-hal tertentu tetapi tetap menuntut proses hukum dilanjutkan.
Pertama, segala kekurangan dan kesalahan yang telah dilakukan Pak Harto tidak membuat kita menutup mata akan kebaikan-kebaikan beliau. Sebab, yang kita benci adalah perbuatan jahat, bukan penjahatnya. Terlebih dalam hal ini “kejahatan” Pak Harto belum terbukti secara hukum sehingga asas presumption of innocence masih harus dipegang teguh.
Kedua, suasana simpatik dan berkabung yang menasional ini tidak lantas melemahkan komitmen kita kepada keadilan, karena itulah kita tetap menuntut proses peradilan dilanjutkan. Hal ini semata-mata dilakukan untuk mengembalikan hak orang banyak, ataupun memulihkan nama baik Pak Harto. Sebab, kita tunduk pada Tuhan dan keadilan yang eternal, bukan pada opini/suasana massif yang kontemporer.
Ini adalah momen penting bagi kita semua. Sebab, dari sini kita bisa belajar banyak perihal “objektivitas” dan “jujur kepada nurani”…two things that will make a human, human.

Dia: “Sialan,nilai gw C!”
Gue: “Kuliahnya susah?”
Dia: “Yah,begitulah.”
Gue: “Bisa diulang kan pas semester pendek?”
Dia: “Di kampus gw ga ada SP.”
Gue: “Loh, kenapa?”
Dia: “Kata dosen mah gak mungkin mata kuliah 1 semester dicerna hanya dalam dua bulan…”
Gue: “Kan cuma MENGULANG? Sebelumnya udah pernah dipelajarin…”
Dia: “Iya sih… Di kampus lo malah bisa ngambil mata kuliah ke atas ya pas SP?”
Gue: “Iya dong.”
Dia: “Nah itu…masa’ sih mata kuliah baru ditempuh hanya selama SP? Emang kuliah hukum gampang ya?”
Gue: “Lo baca aja ndiri buku-buku hukum,paling juga muntah-muntah… Jadi inget satu kelas SP yang hanya 8 mahasiswa dapet nilai A, sedangkan sisanya E! Hehe… Tapi kalo si mahasiswa mampu belajar mata kuliah baru selama SP, kenapa nggak? Ini namanya akselerasi. Di sekolah aja ada yang namanya kelas akselerasi buat murid-murid berbakat.”
Dia: “Hm.. Tapi nilai gw ini bisa diulang tahun depan kok pas semester reguler,walaupun peluang dapet A pupus sudah…”
Gue: “Kok gitu??”
Dia: “Soalnya sistem penghitungannya nilai lama ditambah nilai baru trus dibagi dua, jadi gak mungkin dapet A kalo ngulang! Kata dosen gw, masa’ mahasiswa yang dapet nilai A pas semester reguler mau disamain dengan mahasiswa yang ngulang?”
Gue: “Artinya, mahasiswa bodoh gak akan mungkin sederajat dengan mahasiswa lain yang pintar?”
Dia: “Ho-oh”
Gue: “Kalo gitu kebodohan dianggap mutlak dong?”
Dia: “Iya kali.”
Gue: “Trus, di mana letaknya proses pendidikan? Bukannya hakikat pendidikan adalah membuat yang gak bisa jadi bisa…”
Dia: “Gak tau deh.”
Gue: “…dan yang ‘gak tau deh’ jadi ‘tau deh’? Ironis banget ya sebuah institusi pendidikan menerapkan mekanisme penilaian yang bertentangan dengan hakikat pendidikan itu sendiri…”
Dia: “Kalo gw bisa dapet nilai A juga, berarti gak ada bedanya dong antara gw dan Jeni si jenius itu? Bisa-bisa gw jadi santai-santai kuliah, wong kalo dapet nilai jelek tinggal ngulang kok!”
Gue: “Iya emang, tapi si Jeni lulus besok sedangkan lo tiga tahun kemudian gara-gara kebanyakan ngulang! Jadi, tetep beda lah! Lagipula, kalaupun tetep bisa dapet A di kuliah remedial, bukan berarti semua mahasiswa yang remedial PASTI dapet A kan? Jadi tetep aja lo gak akan santai-santai.”

Malam semakin larut, dan kami pun mengakhiri dialog antarkampus ini. :)

Manusia mati tanpa harapan, tak peduli berapa banyak nyawa masih menggelayuti jantungnya. Maka ketika malam ini kulihat kembang api tahun baru berpecahan di angkasa, aku senang. Entah berapa kali sudah kulihat nyala kembang api, tapi aku senang. Kupikir ini suatu keajaiban, sebab jutaan orang yang tak saling mengenal mengucapkan harapan-harapan mereka di saat bersamaan, dari berbagai tempat — termasuk dari atap-atap rumah.

Terkutuk mereka yang mabuk-mabukan di saat kami mengucap harapan. Dungu mereka yang menyulut kembang api demi orang lain bergembira, sementara benaknya sendiri luput dari mencamkan impian dan ikrar-ikrar baru.

Selamat tahun baru!