Manusia mati tanpa harapan, tak peduli berapa banyak nyawa masih menggelayuti jantungnya. Maka ketika malam ini kulihat kembang api tahun baru berpecahan di angkasa, aku senang. Entah berapa kali sudah kulihat nyala kembang api, tapi aku senang. Kupikir ini suatu keajaiban, sebab jutaan orang yang tak saling mengenal mengucapkan harapan-harapan mereka di saat bersamaan, dari berbagai tempat — termasuk dari atap-atap rumah.
Terkutuk mereka yang mabuk-mabukan di saat kami mengucap harapan. Dungu mereka yang menyulut kembang api demi orang lain bergembira, sementara benaknya sendiri luput dari mencamkan impian dan ikrar-ikrar baru.
Selamat tahun baru!