Siapa sangka seluruh negeri akan berkabung pada hari wafatnya Pak Harto? Media massa pun serempak mengenang kembali jasa-jasa beliau semasa hidupnya. Padahal, hingga menjelang hari-hari akhirnya masih banyak saja berita demonstrasi bernada kecaman terhadap beliau.
Siapa sangka pula orang-orang menangis haru di sepanjang jalan yang dilalui jenazah Pak Harto? Bahkan, banyak dari mereka yang mengajak bangsa memaafkan segala kesalahan beliau. Padahal sebelum hari ini, selama hampir 10 tahun kita nyaris tak pernah mendengar ujaran positif tentang diri Almarhum.
Pada hari berkabung ini tiba-tiba saja terungkap perasaan positif rakyat mengenai sosok Pak Harto…sebuah perasaan yang sejak Reformasi lalu terpendam dalam-dalam di bawah catatan sejarah hitam Sang Jenderal Besar. Seharian saya menyimak televisi, yang ada hanyalah kekaguman orang akan kesederhanaan, ketegasan, keberhasilan beliau memakmurkan rakyat (setidaknya begitulah menurut mereka), serta kedekatan beliau dengan wong cilik.
Rekaman Pak Harto berpidato sesaat setelah lengser, yang menyatakan dukungan dan sikap kooperatif beliau terhadap rencana Jaksa Agung mengusut harta kekayaannya, kembali diputar setelah bertahun-tahun seolah lenyap. Di televisi pula para ahli mengemukakan pandangan out-of-the-box mereka mengenai kebijakan-kebijakan sang mantan presiden, yang berbeda dari pandangan umum selama ini.
Lalu, bagaimana kita seharusnya mengambil sikap? Apakah kita turut hanyut dan melunak dalam suasana simpatik ini, padahal seminggu lalu masih beramai-ramai meneriakkan “gantung Soeharto”? (FYI, saya termasuk mahasiswa yang tidak pernah melontarkan dua kata kasar itu!)
Jujur, saya sendiri sedih menyaksikan pemakaman Pak Harto. Teringat masa-masa kecil yang bahagia di era pemerintahan beliau, ketika saya dan adik saya tidak perlu khawatir kekurangan gizi akibat harga susu melambung tinggi…acara-acara hiburan di TV pun masih cukup sehat untuk dikonsumsi (favorit saya: Si Unyil, Si Komo dan Ksatria Baja Hitam!); bandingkan dengan konten sinetron sekarang yang sakit tetapi menjadi santapan rutin anak-anak.
Masa kecil saya benar-benar jauh dari bayangan depresi; saya leluasa bermain apa saja, membaca apa saja, belajar apa saja demi mengembangkan diri. Saya tak akan lupa betapa meriahnya Hari Anak selalu diperingati setiap tahunnya, dan Pak Harto pun tak pernah luput menghadiri perayaan-perayaan itu.
Pada masa itu pula anak-anak masih menyanyikan lagu-lagu mereka sendiri yang begitu ceria, semangat, imajinatif, dan membangun (favorit saya: lagu-lagu Ibu Sud dan Pak Kasur). Coba bandingkan dengan anak-anak sekarang yang lebih menggandrungi lagu-lagu dewasa yang nakal, cengeng, dan sama sekali tidak cerdas!
Namun, betapapun saya mengagumi kebijakan-kebijakan pemerintahan Pak Harto, di sisi lain saya tetap menuntut diteruskannya peradilan perdata terhadap beliau.
Sama sekali bukan sebuah dilema atau konflik batin, ketika kita mengagumi beliau dalam hal-hal tertentu tetapi tetap menuntut proses hukum dilanjutkan.
Pertama, segala kekurangan dan kesalahan yang telah dilakukan Pak Harto tidak membuat kita menutup mata akan kebaikan-kebaikan beliau. Sebab, yang kita benci adalah perbuatan jahat, bukan penjahatnya. Terlebih dalam hal ini “kejahatan” Pak Harto belum terbukti secara hukum sehingga asas presumption of innocence masih harus dipegang teguh.
Kedua, suasana simpatik dan berkabung yang menasional ini tidak lantas melemahkan komitmen kita kepada keadilan, karena itulah kita tetap menuntut proses peradilan dilanjutkan. Hal ini semata-mata dilakukan untuk mengembalikan hak orang banyak, ataupun memulihkan nama baik Pak Harto. Sebab, kita tunduk pada Tuhan dan keadilan yang eternal, bukan pada opini/suasana massif yang kontemporer.
Ini adalah momen penting bagi kita semua. Sebab, dari sini kita bisa belajar banyak perihal “objektivitas” dan “jujur kepada nurani”…two things that will make a human, human.