Februari 2008


Bapak bertakbir, aku bertakbir

Terdengar nyaring di dua telinga

 

Bapak berdiri, aku ikuti

Tak lupa pesan Mama: baca amin setelah waladdolin

 

Bapak membungkuk, aku heran

Kucolek pinggangnya tuk bertanya

 

Bapak diam saja

 

Bapak bersujud, aku pun riang

Ke atas punggungnya ku menunggang

 

Aku punya kuda sekarang

 

Bapak duduk tenang, aku gembira

Kubilang SMACKDOWN! dari atas pundaknya

 

Bapak diam saja

 

Satu jarinya menunjuk lemah

Ku takut dia marah

 

Sampai dia menoleh kanan dan berkata,

‘assalamualaikum’

 

Aku lega

Kubalas ‘waalaikum salam, Pak!’

 

© 2007, Ahmad Fikri

Teman,
bisakah sebentar saja
kita berhenti bicara
tentang masa depan dan cita-cita,
angan-angan dan segala pencapaian,
ambisi-ambisi besar di kepalamu,
dan di kepala kawan-kawanmu?

Karena aku lapar,
Bapakku pun lapar,
asal kau tahu

Pinjamkan aku dua sen-mu,
kan kutunjukkan cita-citaku dan Bapakku:
sebungkus nasi campur batu