Juli 2008


Sudah tau belum? Mozilla telah meluncurkan web browser unggulan terbarunya: Firefox 3. Hebatnya, pada peluncuran itu Firefox 3 berhasil memecahkan rekor Guinness World Record sebab didownload sebanyak 8 juta kali dalam tempo 24 jam saja!

Selain dari segi tampilan, Firefox 3 juga menyempurnakan versi pendahulunya dari segi infrastruktur. Peningkatan performa dan pengurangan memori pun menjadi prioritas utama Firefox 3. Namun, tentunya Firefox 3 masih memiliki persamaan dengan Firefox sebelumnya, yakni gratis!

Penasaran? Download Firefox 3 di sini untuk versi standar,
atau untuk versi Indonesia di sini ()….. di sini ()….. dan di sini ().

Engrish ialah kesalahan gramatikal bahasa Inggris yang biasa ditemukan di negara-negara Asia Timur, misalnya Jepang. Engrish juga bisa diartikan sebagai cara yang keliru dalam mengungkapkan suatu hal dengan bahasa Inggris.
Istilah Engrish merujuk pada kebiasaan orang Jepang dalam mengucapkan kata “English”, disebabkan dalam bahasa Jepang ada ambiguitas antara bunyi huruf “l” dan “r”.
Klik “more” untuk melihat Engrish lainnya!

(lagi…)

Gila! Ck..ck..ck..! Kok bisa ya??

Begitulah reaksi saya ketika melihat lukisan-lukisan Julian Beever. Seniman asal Inggris ini tidak sekadar pelukis jalanan, tetapi ia benar-benar “melukis di jalanan”!

Lihat lukisan di atas! Jangan pikir itu adalah hasil konstruksi bahan-bahan tiga dimensi! Dengan menggunakan sebuah proyeksi bernama anamorfosis, ia mampu menciptakan ilusi 3D pada lukisan tersebut, bila dilihat dari sudut tertentu.

Inilah yang saya kagumi dari orang Barat: kreatif dan betah menekuni bidangnya dalam-dalam! Kapan ya kita bisa berani seperti mereka?

Btw, saya jadi berpikir untuk mengundang Julian Beever ke Bandung untuk melukisi jalanan Tubagus Ismail yang bopeng-bopeng itu!

(klik “more” untuk melihat lukisan-lukisan amazing lainnya)

(lagi…)

Sepasang suami isteri setengah baya yang sama-sama dari kalangan profesional merasa penat dengan kesibukan di ibukota. Mereka memutuskan untuk berlibur di Bali. Mereka akan menempati kembali kamar hotel yang sama dengan ketika mereka berhoneymoon saat menikah 30 tahun yang lalu. Karena kesibukannya, sang suami harus terbang lebih dahulu dan isterinya baru menyusul keesokan harinya. Setelah check in di hotel di Bali, sang suami mendapati pesawat komputer yang tersambung ke internet telah terpasang di kamarnya.Dengan gembira ia menulis e-mail mesra kepada isterinya di kantornya di Jalan Sudirman, Jakarta. Celakanya, ia salah mengetik alamat e-mail isterinya dan tanpa menyadari kesalahannya ia tetap mengirimkan e-mail tersebut.

Di lain tempat di daerah Cinere, seorang wanita baru kembali dari pemakaman suaminya yang baru saja meninggal. Setibanya di rumah, ia langsung mengecheck e-mail untuk membaca ucapan-ucapan belasungkawa.Baru saja selesai membaca e-mail yang pertama, ia langsung jatuh pingsan tak sadarkan diri. Anak sulungnya yang terkejut kemudian membaca e-mail tersebut (tak lama kemudian jatuh pingsan juga), yang bunyinya :

To: Isteriku tercinta

Subject: Papah sudah sampai Mah !!!
Date: 18 Mei 2006
Aku tahu pasti kamu kaget tapi seneng dapat kabar dariku. Ternyata disini mereka udah pasang internet juga, katanya biar bisa berkirim kabar buat orang-orang tercinta di rumah. Aku baru sampai dan sudah check-in. Katanya mereka juga sudah mempersiapkan segalanya untuk kedatanganmu besok. Nggak sabar deh rasanya nungguin kamu. Semoga perjalanan kamu kesini juga mengasyikkan seperti perjalananku kemaren.
Love you Mom,
Papah
PS: Disini lagi panas-panasnya. Kalau pada mau, anak-anak diajak aja

Kami memanggilnya “Abah”. Istri Abah kami panggil “Ummi”. Tapi bagi kami, murid-muridnya, Abah dan Ummi lebih seperti kakek dan nenek kami.

Meski aku bukan Nahdiyyin, tapi sudah sejak kecil aku belajar ngaji di rumah Abah. Murid-murid Abah banyak, dari anak kecil yang baru sekolah hingga guru-guru ngaji yang telah bergelar haji –berasal dari berbagai tempat di Jakarta dan luar Jakarta. Dulu, Abah mengajar dengan berkeliling kampung-kampung Betawi. Namun, sekarang murid-muridnya lah yang datang ke rumahnya, sebab usia sudah tidak memungkinkannya untuk berpetualang lagi.

Jadwal mengajar Abah begitu padat. Mulai dari pagi, di saat kebanyakan dari kita baru mengambil nasi untuk sarapan, hingga menjelang tengah malam. Ini membuatku terkadang malu sebagai pemuda yang masih gemar melewatkan banyak waktu dengan bersantai.

Jadwalku mengaji dengan Abah ialah setiap malam Minggu, bersama adikku dan Faisal, teman kami. Kami belajar membaca Al Qur’an, menyimak tafsir/nasihat Abah, lalu membaca kitab-kitab Melayu, mulai dari Babul Minan, Perhiasan Bagus, Tajwid, Mukhtasor Jiddan, Matan Kailani, dll. Setiap kami tiba, biasanya Abah masih berada di kamarnya untuk berdzikir ba’da Isya’. Tapi kami terbiasa langsung masuk tanpa perlu menunggu izin empunya rumah. Tempat kami mengaji berupa sebuah ruang lega dekat pintu masuk. Di sanalah kami menunggu Abah dengan membuka-buka kitab dan Al Qur’an, ataupun saling mengobrol dengan suara hampir berbisik.

Selesai berdzikir, Abah akan keluar menemui kami. Kami pun berdiri menghampirinya untuk mencium tangannya. Jangan bayangkan sosok seorang Nahdiyyin yang terkesan angkuh ketika dicium tangannya, sebab Abah tidak seperti itu. Sambil kami mencium tangannya, Abah selalu berkelakar, dan tidak jarang menggoda salah seorang di antara kami. Begitulah pertemuan dengan Abah diawali: selalu dengan bercanda hangat. Setiap Abah melucu, kami tertawa meski kadang terpaksa demi menghargai beliau :) .

Mungkin aku tergolong murid yang bandel. Aku malas mengaji, itulah sebabnya banyak ilmu dari Abah yang tidak aku kuasai. Setiap waktu mengaji tiba, Ibu harus selalu memaksaku. Aku pun berangkat mengaji dengan perasaan berat. Namun, terkadang aku berhasil mengelabui Ibu dengan berpura-pura tidur.

Meski begitu, saat tiba di rumah Abah perasaan malas biasanya lenyap. Bahkan, setiap selesai mengaji, aku merasa bersemangat dan berjanji minggu depan tidak akan malas-malasan lagi untuk berangkat mengaji. Namun, seperti yang bisa kalian duga, janji itu tidak pernah bisa ditepati :) .

Pengalaman hidup Abah telah memberi inspirasi, bahwa jangan takut lapar dengan mengajar. Sejak usia muda (kalau tidak salah 20-an tahun) Abah telah mengajar. Pekerjaan duniawi Abah saat itu hanyalah menjual sabun batangan ke tetangga-tetangga dengan jumlah yang bisa dihitung jari. Tapi Abah tidak pernah kehabisan uang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Logika tidak pernah berhasil menjawab bagaimana keuntungan penjualan sabun batangan itu bisa menutupi pengeluaran Abah sekeluarga.

Sekarang Abah sudah memiliki dua rumah kontrakan. Anak bungsunya pun sudah tamat kuliah dan bekerja. Dua orang cucunya (temanku bermain bola sewaktu kecil) kini menjadi polisi dan akuntan di Jakarta.

Saat aku SMP, keluargaku sempat tinggal di salah satu rumah kontrakan Abah. Karena sekolahku siang, setiap pagi aku tinggal sendiri di rumah itu, sedang orangtuaku bekerja dan adikku sekolah pagi. Abah terkadang menemaniku dengan mengajariku melukis menggunakan cat air. Terkadang hasil lukisan kubawa ke sekolah untuk dinilai guru. Namun sejak kuliah di luar kota, jarang sekali aku bertemu Abah. Aku masuk mengaji hanya sesekali saat pulang ke Cipinang.

Kebetulan Sabtu kemarin ada kesempatanku untuk mengaji. Saat itu rasanya seperti melihat Abah untuk pertama kali. Aku mengagumi hal-hal pada diri Abah, yang dulu kuanggap biasa saja. Di mataku Abah berwibawa, padahal seringkali beliau bercanda dan tertawa dengan orang-orang yang jauh lebih muda dan ilmunya jauh lebih dangkal.

Di Sabtu itu pula, ketika pengajian hendak berakhir, aku mendengar pengakuan Abah bahwa sebenarnya fisiknya sudah letih mengajar begitu banyak orang. Tapi Abah tidak sampai hati berhenti mengajar. Katanya, “Sekarang saja Abah mengajar, umat Islam masih lemah. Apalagi kalau Abah tidak mengajar?”

Pada kesempatan itu juga Abah mengungkapkan penyesalannya akan guru-guru mengaji saat ini. Katanya, guru-guru ngaji sekarang kebanyakan hanya mengajarkan rebana[1] atau qasidahan[2]. Kalaupun tidak, kebanyakan guru mengaji hanya mengajarkan ilmu secara satu arah, dengan menjadikan murid-muridnya pendengar pasif. Itulah antara lain alasan Abah tetap ingin mengajar banyak orang hingga sekarang.

Meski kini ada pemikiran-pemikiran Abah yang berbeda dari pemikiranku, tetapi penghargaan dan kekagumanku kepada Abah tidak pernah berkurang. Aku terus berpikir untuk bisa memberi sesuatu kepada Abah, guru ngaji sekaligus kakekku itu. Meski tidak akan sebanding dengan apa yang telah Abah berikan kepadaku sekeluarga, tetapi ingin rasanya suatu hari nanti aku menghadiahi Abah ongkos ke Ka’bah.


[1] Alat musik tradisional untuk mengiringi nyanyian-nyanyian islami

[2] Qasidah kurang-lebih artinya nyanyian tradisional islami (populer di kalangan Nahdiyyin)

Coba ingat-ingat, sejak dulu beli komputer, sudah berapa kali Anda mengumpat-umpat lantaran komputer rasanya makin berat dan lemot? Nah, di bawah ini ada beberapa tips mak-nyos yang bisa membuat komputer Anda menjadi lebih powerful. Mungkin saja tips-tips ini bisa memperbaiki kualitas hidup Anda sebab darah tinggi Anda tidak lagi kumat setiap kali duduk di depan komputer!

1. Berangus habis file-file di folder Prefetch (lakukan hal ini setiap kali komputer mulai lamban).

Caranya: Start → Run, lalu ketik prefetch, klik OK. Setelah muncul jendela Prefetch, tekan Ctrl + A, Delete, dan klik Yes untuk mengkonfirmasi penghapusan.

2. Matikan services yang tidak diperlukan.

Caranya:

- Start → Run, ketik services.msc, lalu klik OK.

- Ubah setting sesuai petunjuk di bawah ini (Automatic, Manual, atau Disabled) dengan mengklik dua kali pada service yang dimaksud, lalu pilih opsi di listbox bernama startup type di tab General.

- Petunjuk:

AdobeLM Service → atur menjadi Disabled kalau service ini ada di komputer Anda.

Alerter → Disabled, kalau Anda tidak menggunakan network.

Application Management → Manual.

Automatic Updates → Disabled, kalau Anda tidak merasa perlu mengupdate Windows secara otomatis lewat internet.

(lagi…)

Kalau cinta itu dosa, maka ia adalah dosa yang paling indah…

Kalian bilang cinta datang tanpa diduga, saya setuju. Siapa orangnya yang berani memasukkan kata “jatuh cinta” pada daftar rencana hidupnya? Cinta adalah misteri yang tak masuk akal, maka jangan coba menanam atau membunuhnya dengan cara-cara yang masuk akal kalau tak mau jadi gila.

Cinta bahkan lebih misterius daripada kematian! Periksa sejarah orang-orang yang bunuh diri di dunia ini. Para pecundang itu telah membuat rencana untuk menemui ajal…seminggu, sehari, ataupun sedetik sebelumnya. Tapi coba periksa sejarah para pencinta! Tak akan berhasil kaubuktikan mereka telah membuat suatu rencana, atau sekadar ramalan bahwa nanti malam mereka akan mulai gila karena memendam cinta.

Kalian bilang cinta itu buta, saya percaya. Tak usah repot-repot merinci ciri-ciri orang yang akan kaucinta, karena suatu hari kau hanya akan geleng-geleng kepala mengetahui rincian itu omong-kosong belaka.

Kalian bilang cinta tidak untuk dipendam, tetapi untuk diungkapkan. Saya pun bisa menerima itu. Hanya saja, yang tidak bisa saya terima -dan saya selalu tertawa merendahkan setiap kali memikirkan hal ini- adalah cara kalian dalam mengungkapkan cinta!

Setiap kali (merasa) jatuh cinta, kau mengungkapkannya dengan cara paling romantis yang bisa dipikirkan umat manusia pada saat itu. Terus terang, saya kagum akan keberanianmu mengatasi rasa gugup ketika memberi pengakuan di depan wanita itu. Belum tentu saya sanggup seperti itu. Kemudian, kau mendengar jawaban darinya. Tak lama, kabar tersiar. Teman-temanmu pun memberi selamat, dan dengan senang hati kau traktir mereka makan siang. Sejak itu kau jalani hari-hari penuh kejutan, romantisme, dan tawa-jenaka…hingga beberapa bulan kemudian kau akhiri hubungan itu dengan jahat, berdalih bahwa baru kau sadari yang dulu itu bukan cinta. Sejak itulah wanita itu memusuhimu mati-matian…

Jujur saja, berapa kali siklus tersebut terjadi dalam hidupmu? Siklus yang diawali dengan “perasaan jatuh cinta” dan diakhiri dengan “permusuhan dan penyesalan” itu… Setiap kali jatuh cinta, segera kauungkapkan, dan siklus itu pun berlangsung dengan sendirinya. Akibatnya, kini telah banyak orang yang membencimu. Mereka adalah orang-orang yang dulu begitu kaupuja, dan yang kaurasa telah jatuh cinta kepada mereka. Satu kali kau pernah jatuh cinta, satu orang kini musuhmu. Lima kali pernah jatuh cinta, lima orang kini musuhmu. Sepuluh kali pernah jatuh cinta, sepuluh orang kini musuhmu… Jumlah yang cukup untuk menjadikanmu seorang yang tidak layak lagi untuk dicinta!

Saya bukan setan yang mengharamkan cinta. Saya pun bukan pecundang yang takut untuk mengungkapkan cinta. Hanya saja, kepada siapa cinta itu mesti saya ucapkan, bila belum juga saya jumpai wanita yang namanya telah diukir dalam kitab takdir saya?

Berkali-kali saya merasa jatuh cinta, tetapi tidak sekali pun saya berani berpikir bahwa wanita-wanita itu adalah jodoh saya. Jodoh adalah orang yang akan saya nikahi, karena itu saya yakin Tuhan akan mempertemukan saya dengannya hanya ketika saya telah siap untuk menikahinya.

Dalam waktu yang tidak lama lagi, mungkin saya siap -dan berniat untuk- menikah. Saat itulah, begitu sekali lagi saya menderita jatuh cinta, saya akan yakin dialah yang sebenarnya ditakdirkan untuk saya. Dialah yang akan mendampingi hidup untuk bertahun-tahun lamanya hingga kematian tiba.

Jatuh cinta di saat diri telah siap menikah adalah sesuatu yang sangat serius. Itulah cinta yang sesungguhnya! Itulah saatnya saya akan mengungkapkan cinta dengan tekad yang suci, dan saya jamin dengan cara yang jauh lebih romantis daripada yang pernah kalian lakukan selama ini!

Namun, sebelum saat itu tiba, saya akan menahan diri untuk tidak gegabah mengobral cinta ke sembarang wanita. Bukankah cinta adalah perjuangan, yang selain berisi romantisme, juga heroisme? Di masa-masa penantian inilah sisi-sisi heroik itu akan terungkap! Betapa masa-masa ini akan menjadi cerita yang menarik untuk dikisahkan kepadanya suatu hari nanti…

Aduh, Tuan, aku tak ingin kaya
Kunci yang tujuh itu pun simpan saja lah
Bukankah mereka mimpi Tuan kala remaja?

Hanya izinkan aku bernyanyi
tentang pemuda berbaju besi, yang duduk di penghujung hari
tinggal menunggu mati, sebab ia terlalu letih

Ah, Tuan tak mengerti nyanyianku
Baiklah ku pergi, tunggulah aku
Di penghujung hari kita akan bertemu
dengan syahdunya nada-nadaku
Kafani aku, pemuda itu