Oktober 2008


Saya mengagumi Abu Nawas. Ia adalah ulama, sufi, guru yang alim, sekaligus badut konyol yang sangat cerdas. Ia dekat dengan Raja Harun Al Rasyid, tetapi lebih senang menghabiskan waktunya untuk bergaul dengan orang-orang badui. Dengan cara yang menggelikan, ia menolak sewaktu hendak diangkat menjadi kadi istana (semacam penghulu atau hakim) dan lebih memilih tinggal di desa untuk mengajar murid-muridnya. Dalam bayangan saya, Abu Nawas mungkin mirip tokoh Patch Adams, seorang dokter yang juga dianggap badut gila karena sering bertingkah konyol demi menghibur pasien-pasiennya.

Ada satu kisah Abu Nawas yang saya ingat betul. Wallahu a’lam apakah kisah ini nyata ataukah sekadar karangan Abu Nawas untuk mengajari murid-muridnya. Yang jelas, kisah ini telah menginspirasi saya.

Pada suatu hari, tiga orang datang bertamu ke rumah Abu Nawas untuk mencari jawaban atas suatu persoalan yang mengganjal pikiran mereka. Ditemani seorang muridnya, Abu Nawas menyambut mereka dan mempersilahkan mereka menyampaikan pertanyaan.

Orang pertama berujar, “Wahai Abu Nawas, manakah yang lebih utama, orang yang melakukan dosa-dosa besar atau orang yang melakukan dosa-dosa kecil?”

Jawab Abu Nawas, “Orang yang melakukan dosa-dosa kecil, sebab lebih mudah diampuni oleh Allah SWT.”

Orang pertama puas mendengar jawaban Abu Nawas sebab ia memang yakin seperti itu.

Kemudian orang kedua bertanya, “Wahai Abu Nawas, manakah yang lebih utama, orang yang mengerjakan dosa-dosa besar atau orang yang mengerjakan dosa-dosa kecil?”

Jawab Abu Nawas, “Orang yang tidak mengerjakan keduanya, sebab dengan demikian ia tentu tidak memerlukan pengampunan dari Allah SWT.”

Orang kedua pun puas mendengar penjelasan Abu Nawas.

Giliran orang ketiga bertanya, “Wahai Abu Nawas, manakah yang lebih utama, orang yang melakukan dosa-dosa besar atau orang yang melakukan dosa-dosa kecil?”

Jawab Abu Nawas, “Orang yang melakukan dosa-dosa besar, sebab pengampunan Allah SWT yang diterimanya juga akan besar. Ia sangat beruntung memperoleh rahmat yang demikian.”

Orang ketiga pun puas mendengar penuturan Abu Nawas. Kemudian ia dan dua temannya pamit pulang.

Setelah ketiga orang itu pergi, murid Abu Nawas bertanya, “Mengapa pertanyaan yang sama bisa menghasilkan jawaban yang berbeda-beda?” (lagi…)

Di suatu siang aku berbincang dengan Tj, seorang imaginary friend yang kelihatannya sedang dilanda kesusahan…

Tj : Parah, motivasi gw ilang blas! Mau belajar jadi males, euy…

AF : Wah pasti kesiksa banget tuh! Setengah diri lo merasa harus melakukan sesuatu tapi yang sebelah lagi seperti mati dan gak mau bergerak. Emang kenapa lo harus belajar?

Sebentar lagi kan ujian! Gimana sih…

Itu aja alasan lo?

Uh…iya.

Kalo gitu mending lo main game aja sama gw! Percuma, sampe kuntilanak bangun tidur juga lo kagak bakal bisa belajar!

Hm.. Boleh deh.. main game apa nih?

Yee! BAKA! Bukannya mikir… Setau gw nih ya, lo harus punya alasan yang sangat kuat untuk bisa termotivasi melakukan sesuatu.

Alasan gw kan biar dapet nilai bagus pas ujian?

Nilai bagus” itu maksudnya apa?

Nilai A.

Kenapa lo harus dapat nilai A?

Ya iyalah harus dapat A, masa’ dong dapat C? Wulan Jameelah juga ngerti kenapa!

Iya tapi sebutin kenapa? Lo udah men-define alasan lo dengan jelas, belum? Maksud gw, “alasan pribadi” lo, dalam konteks kehidupan lo sendiri. Nggak usah me-refer ke orang lain, termasuk ke Wulan Jamaludin itu.

Hm.. Alasan pribadi gw ya…

Biar bisa lulus cum laude?

Nah! Itu.

Oke. Untuk selanjutnya lo harus bisa jawab sendiri. Kenapa harus lulus cum laude? (lagi…)