Saya mengagumi Abu Nawas. Ia adalah ulama, sufi, guru yang alim, sekaligus badut konyol yang sangat cerdas. Ia dekat dengan Raja Harun Al Rasyid, tetapi lebih senang menghabiskan waktunya untuk bergaul dengan orang-orang badui. Dengan cara yang menggelikan, ia menolak sewaktu hendak diangkat menjadi kadi istana (semacam penghulu atau hakim) dan lebih memilih tinggal di desa untuk mengajar murid-muridnya. Dalam bayangan saya, Abu Nawas mungkin mirip tokoh Patch Adams, seorang dokter yang juga dianggap badut gila karena sering bertingkah konyol demi menghibur pasien-pasiennya.
Ada satu kisah Abu Nawas yang saya ingat betul. Wallahu a’lam apakah kisah ini nyata ataukah sekadar karangan Abu Nawas untuk mengajari murid-muridnya. Yang jelas, kisah ini telah menginspirasi saya.
Pada suatu hari, tiga orang datang bertamu ke rumah Abu Nawas untuk mencari jawaban atas suatu persoalan yang mengganjal pikiran mereka. Ditemani seorang muridnya, Abu Nawas menyambut mereka dan mempersilahkan mereka menyampaikan pertanyaan.
Orang pertama berujar, “Wahai Abu Nawas, manakah yang lebih utama, orang yang melakukan dosa-dosa besar atau orang yang melakukan dosa-dosa kecil?”
Jawab Abu Nawas, “Orang yang melakukan dosa-dosa kecil, sebab lebih mudah diampuni oleh Allah SWT.”
Orang pertama puas mendengar jawaban Abu Nawas sebab ia memang yakin seperti itu.
Kemudian orang kedua bertanya, “Wahai Abu Nawas, manakah yang lebih utama, orang yang mengerjakan dosa-dosa besar atau orang yang mengerjakan dosa-dosa kecil?”
Jawab Abu Nawas, “Orang yang tidak mengerjakan keduanya, sebab dengan demikian ia tentu tidak memerlukan pengampunan dari Allah SWT.”
Orang kedua pun puas mendengar penjelasan Abu Nawas.
Giliran orang ketiga bertanya, “Wahai Abu Nawas, manakah yang lebih utama, orang yang melakukan dosa-dosa besar atau orang yang melakukan dosa-dosa kecil?”
Jawab Abu Nawas, “Orang yang melakukan dosa-dosa besar, sebab pengampunan Allah SWT yang diterimanya juga akan besar. Ia sangat beruntung memperoleh rahmat yang demikian.”
Orang ketiga pun puas mendengar penuturan Abu Nawas. Kemudian ia dan dua temannya pamit pulang.
Setelah ketiga orang itu pergi, murid Abu Nawas bertanya, “Mengapa pertanyaan yang sama bisa menghasilkan jawaban yang berbeda-beda?”
(lagi…)