“How many roads must a man walk down,
Before you call him a man?
How many seas must a white dove sail,
Before she sleeps in the sand?
…The answer, my friend, is blowin’ in the wind
The answer is blowin’ in the wind”

(Bob Dylan, Blowin’ in the Wind)

Mendengarkan lagu-lagu Dylan, mungkin kita tidak menikmati iramanya. Kita tidak dibuat turut bersenandung. Terkadang nadanya datar, bahkan tak jarang seperti mengigau. Menyanyikannya? Pasti lebih sulit!
Menurut saya, lagu-lagu Dylan bukan untuk dinyanyikan, melainkan untuk “dibaca”. Bacalah saat merenung soal rasisme, kemanusiaan, peperangan, hingga soal “pria berjas hitam panjang” yang mungkin ada di sebelah kita. Ada kekuatan luar biasa di balik kata-katanya.
Dengan gitarnya, Dylan seakan duduk di hadapan saya. Tidak seperti penyanyi dengan fansnya; kami layaknya dua pria yang sedang menunggu kereta atau senja. Kami mengobrol tentang banyak hal; mengapa Hurricane berkulit hitam, mengapa pria berbaju Napoleon memperdaya sang putri “rolling stone”, dan lainnya. Ia terus bertanya dan bertanya. Saya melipat dahi mencari jawaban, tapi sia-sia…blowing in the wind! Pada akhirnya, saya hanya bisa membuka mata sedikit lebih lebar, dan sekadar menyadari keadaan yang sebenarnya.
Mungkin tidak setiap saat saya biarkan Dylan “berceloteh” dengan harmonikanya. Ada kalanya saya berada di puncak mood dan merasa luar biasa ceria; inilah waktunya memutar lagu-lagu Project Pop, Warkop DKI, atau Bryan Adams. Tapi percayalah, sewaktu-waktu kita sedang muak atas keangkuhan orang-orang kaya, atau menjadi saksi bahwa cinta tidak semanis namanya, tak ada salahnya mengajak Dylan untuk menemani kita menahan gelisah.

“I knew a man, Bojangles, and he’d dance for you in worn out shoes.
Silver hair, ragged shirt and baggy pants, that old soft shoe.
He’d jump so high, he’d jump so high, then he’d lightly touch down.

He danced for those at minstrel shows and county fairs throughout the South.
He spoke with tears of 15 years of how his dog and him just travelled all about.
His dog up and died, he up and died.
And after 20 years he still grieves.

Mr. Bojangles,
Mr. Bojangles,
Dance.”
(Bob Dylan, Mr Bojangles)