Bagaimana rasanya saat menyadari kita gak lagi berada dalam jajaran generasi “terkecil”?
Tiga hari lalu, untuk pertama kalinya saya bertemu dengan keponakan, alias anaknya sepupu. Umurnya 2 tahun, dan sejak detik pertama kedatangannya ia menjadi satu-satunya pusat perhatian di rumah. Tingkahnya lucu! Saya pernah tertawa saat nonton Empat Mata, tapi tidak pernah begitu terpingkal-pingkal seperti saat nonton ponakanku itu menggoyangkan-goyangkan kepala tatkala mendengar lagu Goyang Duyu-nya Project Pop.
Rasanya aneh ia memanggilku dan adikku Om. Tanteku pun sempat nyeletuk, “Ah, gara-gara lo nih gue jadi dipanggil Andung!” (FYI, Andung means Nenek, bahasa Padang). Padahal sudah 6 tahun “posisi” Andung kosong, persisnya sejak Andungku meninggal dunia. Kini sepertinya lahir atmosfir yang benar-benar baru di rumah.
Aku dan adikku bercanda habis-habisan dengan anak kecil itu. Aku ajari dia untuk memanggil adikku Om Cicak, dan adikku balas mengajarinya untuk memanggilku Om Kodok. Bagian paling lucunya adalah ketika ia ditanya “Kalo kamu siapa?”, dan ia menjawab, Onyet!
Aduh, Raihan, Raihan… Never grow up, Babe! Coz life’s no more funny for an adult.
28 Januari, 2009 at 2:22
Om Fikri, kite dah jarang ketemu nih,,,
ane link y blognya!
22 Februari, 2009 at 9:45
[...] baca tulisannya si fikri di sini, entah tiba-tiba jadi nyadar en bikin cengar-cengir sendiri. Lucu juga merasakan bahwa diri ini [...]