Doktrin


Ada kalanya saya berpikir, mungkin kita telah berbuat kesalahan dengan memerdekakan diri, sebab kemerdekaan ini justru membuat perjuangan kita terhenti.

Dalam sebuah pidato, seseorang bercerita tentang sebuah negeri kayangan yang begitu tenang, damai, dan tentram. Di negeri yang indah itu tak ada panas yang terlalu, juga tak ada dingin yang terlalu. Tak ada peperangan yang harus dihadapi, tak ada perjuangan keras yang mesti dijalani. Cerita itu begitu menghanyutkan, tetapi orang itu mengakhirinya dengan kalimat yang mengejutkan. Dengan lantang ia berkata bahwa negaranya tidak boleh menjadi negeri kayangan semacam itu! Ia ingin bangsanya terus mengalami naik-turunnya perjuangan, sebab dengan begitulah rakyatnya dapat menjadi kuat dan tegar.

Pidato itu diucapkan sekitar tujuh windu yang lalu oleh Bung Karno. Ketimbang mengagumi kemampuan orasinya, saya lebih memilih menghayati makna yang hendak disampaikannya. Bagi saya, pidato itu merupakan ramalan tentang Indonesia di masa depan. Lantas saya, seorang pemuda yang hidup di “masa depan” itu, tak punya pilihan selain mengiyakan kebenaran ramalan tersebut, sebab saya saksikan sendiri Indonesia kini seakan menjadi sebuah negeri kayangan.

Di negeri ini kita punya tentara yang tak pernah berperang. Perjuangan rakyat yang berdarah-darah kini sekadar menjadi sejarah yang bahkan tak menarik untuk dibaca. Para pemimpinnya pun tak lagi merasa perlu berpidato ala Soekarno, membakar semangat rakyat untuk mengangkat senjata, karena perang telah usai dan tentara Jepang sudah lari.

Ini membuat saya termenung di beberapa jeda: bagaimana caranya kini menemukan pahlawan, sementara di negeri ini tak ada lagi perang untuk dimenangkan? Bagaimana mungkin menjadi syahid, sementara tak ada medan jihad tempat kita bisa mati? Dua pertanyaan filosofis ini rasanya menjadi semakin penting untuk segera dijawab, terutama setiap kali saya tergiur janji Allah akan surga bagi para syuhada. Namun, tak mudah untuk menjawabnya.

Tidak saya temukan jawabannya di mana pun, kecuali di mata anak-anak pengemis yang putus sekolah, di tali gantungan seorang ibu yang bunuh diri karena terjerat utang, juga di kabar-kabar buruk mengenai bejatnya praktik peradilan. Inilah medan pertempuran kita! Inilah kesempatan kita untuk memerdekakan bangsa sekali lagi, kemudian mati sebagai syuhada! jerit batin saya saat pertama kali menyadari hal ini.

Perjuangan kaum muda

Sejarah dunia telah membuktikan bahwa setiap zaman memiliki pahlawannya, dan pemuda selalu menjadi bagian terpenting dari kisah-kisah kepemimpinan heroik. Karena itu, aneh rasanya menyaksikan pemuda Indonesia saat ini yang lebih senang mengemis-ngemis meminta kesempatan menjadi pemimpin, ketimbang berupaya meraih prestasi tertinggi untuk membuktikan kepada masyarakat bahwa ia memang layak memimpin.

Kursi-kursi kepemimpinan merindukan segelintir pemuda prestatif. Tidak sesempit pemikiran banyak orang, kepemimpinan tak hanya berkisar pada ranah politik, tetapi juga pada wilayah hukum, teknologi, budaya, sastra─kesemuanya haus akan pemimpin prestatif yang kelak menjadi pahlawan bagi zaman ini.

Namun, seberapa luas pun terbuka kesempatan untuk menjadi pahlawan, pada akhirnya semua bergantung pada keputusan individual kita. Sebab, hidup adalah sekumpulan pilihan. Apakah hanya mau duduk nyaman di menara gading sambil berkomentar dan mengkritik sana-sini? Ataukah mau menyingsingkan lengan baju dan bergabung dengan barisan pejuang, sambil memukul keras-keras genta di negeri kayangan ini untuk membangunkan prajurit-prajurit yang masih tidur? Terserah kita, keduanya adalah pilihan. Hanya saja, tidak pernah ada dua pilihan yang sama baiknya.

Kalaupun kita memilih yang terakhir, masih ada pertanyaan terpenting yang perlu dijawab dengan perbuatan: perjuangan ini adalah perjalanan ribuan mil, lantas kapan kita akan memulai langkah pertama?

Kalau cinta itu dosa, maka ia adalah dosa yang paling indah…

Kalian bilang cinta datang tanpa diduga, saya setuju. Siapa orangnya yang berani memasukkan kata “jatuh cinta” pada daftar rencana hidupnya? Cinta adalah misteri yang tak masuk akal, maka jangan coba menanam atau membunuhnya dengan cara-cara yang masuk akal kalau tak mau jadi gila.

Cinta bahkan lebih misterius daripada kematian! Periksa sejarah orang-orang yang bunuh diri di dunia ini. Para pecundang itu telah membuat rencana untuk menemui ajal…seminggu, sehari, ataupun sedetik sebelumnya. Tapi coba periksa sejarah para pencinta! Tak akan berhasil kaubuktikan mereka telah membuat suatu rencana, atau sekadar ramalan bahwa nanti malam mereka akan mulai gila karena memendam cinta.

Kalian bilang cinta itu buta, saya percaya. Tak usah repot-repot merinci ciri-ciri orang yang akan kaucinta, karena suatu hari kau hanya akan geleng-geleng kepala mengetahui rincian itu omong-kosong belaka.

Kalian bilang cinta tidak untuk dipendam, tetapi untuk diungkapkan. Saya pun bisa menerima itu. Hanya saja, yang tidak bisa saya terima -dan saya selalu tertawa merendahkan setiap kali memikirkan hal ini- adalah cara kalian dalam mengungkapkan cinta!

Setiap kali (merasa) jatuh cinta, kau mengungkapkannya dengan cara paling romantis yang bisa dipikirkan umat manusia pada saat itu. Terus terang, saya kagum akan keberanianmu mengatasi rasa gugup ketika memberi pengakuan di depan wanita itu. Belum tentu saya sanggup seperti itu. Kemudian, kau mendengar jawaban darinya. Tak lama, kabar tersiar. Teman-temanmu pun memberi selamat, dan dengan senang hati kau traktir mereka makan siang. Sejak itu kau jalani hari-hari penuh kejutan, romantisme, dan tawa-jenaka…hingga beberapa bulan kemudian kau akhiri hubungan itu dengan jahat, berdalih bahwa baru kau sadari yang dulu itu bukan cinta. Sejak itulah wanita itu memusuhimu mati-matian…

Jujur saja, berapa kali siklus tersebut terjadi dalam hidupmu? Siklus yang diawali dengan “perasaan jatuh cinta” dan diakhiri dengan “permusuhan dan penyesalan” itu… Setiap kali jatuh cinta, segera kauungkapkan, dan siklus itu pun berlangsung dengan sendirinya. Akibatnya, kini telah banyak orang yang membencimu. Mereka adalah orang-orang yang dulu begitu kaupuja, dan yang kaurasa telah jatuh cinta kepada mereka. Satu kali kau pernah jatuh cinta, satu orang kini musuhmu. Lima kali pernah jatuh cinta, lima orang kini musuhmu. Sepuluh kali pernah jatuh cinta, sepuluh orang kini musuhmu… Jumlah yang cukup untuk menjadikanmu seorang yang tidak layak lagi untuk dicinta!

Saya bukan setan yang mengharamkan cinta. Saya pun bukan pecundang yang takut untuk mengungkapkan cinta. Hanya saja, kepada siapa cinta itu mesti saya ucapkan, bila belum juga saya jumpai wanita yang namanya telah diukir dalam kitab takdir saya?

Berkali-kali saya merasa jatuh cinta, tetapi tidak sekali pun saya berani berpikir bahwa wanita-wanita itu adalah jodoh saya. Jodoh adalah orang yang akan saya nikahi, karena itu saya yakin Tuhan akan mempertemukan saya dengannya hanya ketika saya telah siap untuk menikahinya.

Dalam waktu yang tidak lama lagi, mungkin saya siap -dan berniat untuk- menikah. Saat itulah, begitu sekali lagi saya menderita jatuh cinta, saya akan yakin dialah yang sebenarnya ditakdirkan untuk saya. Dialah yang akan mendampingi hidup untuk bertahun-tahun lamanya hingga kematian tiba.

Jatuh cinta di saat diri telah siap menikah adalah sesuatu yang sangat serius. Itulah cinta yang sesungguhnya! Itulah saatnya saya akan mengungkapkan cinta dengan tekad yang suci, dan saya jamin dengan cara yang jauh lebih romantis daripada yang pernah kalian lakukan selama ini!

Namun, sebelum saat itu tiba, saya akan menahan diri untuk tidak gegabah mengobral cinta ke sembarang wanita. Bukankah cinta adalah perjuangan, yang selain berisi romantisme, juga heroisme? Di masa-masa penantian inilah sisi-sisi heroik itu akan terungkap! Betapa masa-masa ini akan menjadi cerita yang menarik untuk dikisahkan kepadanya suatu hari nanti…

Siapa sangka seluruh negeri akan berkabung pada hari wafatnya Pak Harto? Media massa pun serempak mengenang kembali jasa-jasa beliau semasa hidupnya. Padahal, hingga menjelang hari-hari akhirnya masih banyak saja berita demonstrasi bernada kecaman terhadap beliau.
Siapa sangka pula orang-orang menangis haru di sepanjang jalan yang dilalui jenazah Pak Harto? Bahkan, banyak dari mereka yang mengajak bangsa memaafkan segala kesalahan beliau. Padahal sebelum hari ini, selama hampir 10 tahun kita nyaris tak pernah mendengar ujaran positif tentang diri Almarhum.
Pada hari berkabung ini tiba-tiba saja terungkap perasaan positif rakyat mengenai sosok Pak Harto…sebuah perasaan yang sejak Reformasi lalu terpendam dalam-dalam di bawah catatan sejarah hitam Sang Jenderal Besar. Seharian saya menyimak televisi, yang ada hanyalah kekaguman orang akan kesederhanaan, ketegasan, keberhasilan beliau memakmurkan rakyat (setidaknya begitulah menurut mereka), serta kedekatan beliau dengan wong cilik.
Rekaman Pak Harto berpidato sesaat setelah lengser, yang menyatakan dukungan dan sikap kooperatif beliau terhadap rencana Jaksa Agung mengusut harta kekayaannya, kembali diputar setelah bertahun-tahun seolah lenyap. Di televisi pula para ahli mengemukakan pandangan out-of-the-box mereka mengenai kebijakan-kebijakan sang mantan presiden, yang berbeda dari pandangan umum selama ini.
Lalu, bagaimana kita seharusnya mengambil sikap? Apakah kita turut hanyut dan melunak dalam suasana simpatik ini, padahal seminggu lalu masih beramai-ramai meneriakkan “gantung Soeharto”? (FYI, saya termasuk mahasiswa yang tidak pernah melontarkan dua kata kasar itu!)
Jujur, saya sendiri sedih menyaksikan pemakaman Pak Harto. Teringat masa-masa kecil yang bahagia di era pemerintahan beliau, ketika saya dan adik saya tidak perlu khawatir kekurangan gizi akibat harga susu melambung tinggi…acara-acara hiburan di TV pun masih cukup sehat untuk dikonsumsi (favorit saya: Si Unyil, Si Komo dan Ksatria Baja Hitam!); bandingkan dengan konten sinetron sekarang yang sakit tetapi menjadi santapan rutin anak-anak.
Masa kecil saya benar-benar jauh dari bayangan depresi; saya leluasa bermain apa saja, membaca apa saja, belajar apa saja demi mengembangkan diri. Saya tak akan lupa betapa meriahnya Hari Anak selalu diperingati setiap tahunnya, dan Pak Harto pun tak pernah luput menghadiri perayaan-perayaan itu.
Pada masa itu pula anak-anak masih menyanyikan lagu-lagu mereka sendiri yang begitu ceria, semangat, imajinatif, dan membangun (favorit saya: lagu-lagu Ibu Sud dan Pak Kasur). Coba bandingkan dengan anak-anak sekarang yang lebih menggandrungi lagu-lagu dewasa yang nakal, cengeng, dan sama sekali tidak cerdas!
Namun, betapapun saya mengagumi kebijakan-kebijakan pemerintahan Pak Harto, di sisi lain saya tetap menuntut diteruskannya peradilan perdata terhadap beliau.
Sama sekali bukan sebuah dilema atau konflik batin, ketika kita mengagumi beliau dalam hal-hal tertentu tetapi tetap menuntut proses hukum dilanjutkan.
Pertama, segala kekurangan dan kesalahan yang telah dilakukan Pak Harto tidak membuat kita menutup mata akan kebaikan-kebaikan beliau. Sebab, yang kita benci adalah perbuatan jahat, bukan penjahatnya. Terlebih dalam hal ini “kejahatan” Pak Harto belum terbukti secara hukum sehingga asas presumption of innocence masih harus dipegang teguh.
Kedua, suasana simpatik dan berkabung yang menasional ini tidak lantas melemahkan komitmen kita kepada keadilan, karena itulah kita tetap menuntut proses peradilan dilanjutkan. Hal ini semata-mata dilakukan untuk mengembalikan hak orang banyak, ataupun memulihkan nama baik Pak Harto. Sebab, kita tunduk pada Tuhan dan keadilan yang eternal, bukan pada opini/suasana massif yang kontemporer.
Ini adalah momen penting bagi kita semua. Sebab, dari sini kita bisa belajar banyak perihal “objektivitas” dan “jujur kepada nurani”…two things that will make a human, human.