Ekspresif


Bagaimana rasanya saat menyadari kita gak lagi berada dalam jajaran generasi “terkecil”?

Tiga hari lalu, untuk pertama kalinya saya bertemu dengan keponakan, alias anaknya sepupu. Umurnya 2 tahun, dan sejak detik pertama kedatangannya ia menjadi satu-satunya pusat perhatian di rumah. Tingkahnya lucu! Saya pernah tertawa saat nonton Empat Mata, tapi tidak pernah begitu terpingkal-pingkal seperti saat nonton ponakanku itu menggoyangkan-goyangkan kepala tatkala mendengar lagu Goyang Duyu-nya Project Pop.

Rasanya aneh ia memanggilku dan adikku Om. Tanteku pun sempat nyeletuk, “Ah, gara-gara lo nih gue jadi dipanggil Andung!” (FYI, Andung means Nenek, bahasa Padang). Padahal sudah 6 tahun “posisi” Andung kosong, persisnya sejak Andungku meninggal dunia. Kini sepertinya lahir atmosfir yang benar-benar baru di rumah.

Aku dan adikku bercanda habis-habisan dengan anak kecil itu. Aku ajari dia untuk memanggil adikku Om Cicak, dan adikku balas mengajarinya untuk memanggilku Om Kodok. Bagian paling lucunya adalah ketika ia ditanya “Kalo kamu siapa?”, dan ia menjawab, Onyet!

Aduh, Raihan, Raihan… Never grow up, Babe! Coz life’s no more funny for an adult.

“How many roads must a man walk down,
Before you call him a man?
How many seas must a white dove sail,
Before she sleeps in the sand?
…The answer, my friend, is blowin’ in the wind
The answer is blowin’ in the wind”

(Bob Dylan, Blowin’ in the Wind)

Mendengarkan lagu-lagu Dylan, mungkin kita tidak menikmati iramanya. Kita tidak dibuat turut bersenandung. Terkadang nadanya datar, bahkan tak jarang seperti mengigau. Menyanyikannya? Pasti lebih sulit!
Menurut saya, lagu-lagu Dylan bukan untuk dinyanyikan, melainkan untuk “dibaca”. Bacalah saat merenung soal rasisme, kemanusiaan, peperangan, hingga soal “pria berjas hitam panjang” yang mungkin ada di sebelah kita. Ada kekuatan luar biasa di balik kata-katanya.
Dengan gitarnya, Dylan seakan duduk di hadapan saya. Tidak seperti penyanyi dengan fansnya; kami layaknya dua pria yang sedang menunggu kereta atau senja. Kami mengobrol tentang banyak hal; mengapa Hurricane berkulit hitam, mengapa pria berbaju Napoleon memperdaya sang putri “rolling stone”, dan lainnya. Ia terus bertanya dan bertanya. Saya melipat dahi mencari jawaban, tapi sia-sia…blowing in the wind! Pada akhirnya, saya hanya bisa membuka mata sedikit lebih lebar, dan sekadar menyadari keadaan yang sebenarnya.
Mungkin tidak setiap saat saya biarkan Dylan “berceloteh” dengan harmonikanya. Ada kalanya saya berada di puncak mood dan merasa luar biasa ceria; inilah waktunya memutar lagu-lagu Project Pop, Warkop DKI, atau Bryan Adams. Tapi percayalah, sewaktu-waktu kita sedang muak atas keangkuhan orang-orang kaya, atau menjadi saksi bahwa cinta tidak semanis namanya, tak ada salahnya mengajak Dylan untuk menemani kita menahan gelisah.

“I knew a man, Bojangles, and he’d dance for you in worn out shoes.
Silver hair, ragged shirt and baggy pants, that old soft shoe.
He’d jump so high, he’d jump so high, then he’d lightly touch down.

He danced for those at minstrel shows and county fairs throughout the South.
He spoke with tears of 15 years of how his dog and him just travelled all about.
His dog up and died, he up and died.
And after 20 years he still grieves.

Mr. Bojangles,
Mr. Bojangles,
Dance.”
(Bob Dylan, Mr Bojangles)

Aduh, Tuan, aku tak ingin kaya
Kunci yang tujuh itu pun simpan saja lah
Bukankah mereka mimpi Tuan kala remaja?

Hanya izinkan aku bernyanyi
tentang pemuda berbaju besi, yang duduk di penghujung hari
tinggal menunggu mati, sebab ia terlalu letih

Ah, Tuan tak mengerti nyanyianku
Baiklah ku pergi, tunggulah aku
Di penghujung hari kita akan bertemu
dengan syahdunya nada-nadaku
Kafani aku, pemuda itu

Bapak bertakbir, aku bertakbir

Terdengar nyaring di dua telinga

 

Bapak berdiri, aku ikuti

Tak lupa pesan Mama: baca amin setelah waladdolin

 

Bapak membungkuk, aku heran

Kucolek pinggangnya tuk bertanya

 

Bapak diam saja

 

Bapak bersujud, aku pun riang

Ke atas punggungnya ku menunggang

 

Aku punya kuda sekarang

 

Bapak duduk tenang, aku gembira

Kubilang SMACKDOWN! dari atas pundaknya

 

Bapak diam saja

 

Satu jarinya menunjuk lemah

Ku takut dia marah

 

Sampai dia menoleh kanan dan berkata,

‘assalamualaikum’

 

Aku lega

Kubalas ‘waalaikum salam, Pak!’

 

© 2007, Ahmad Fikri

Teman,
bisakah sebentar saja
kita berhenti bicara
tentang masa depan dan cita-cita,
angan-angan dan segala pencapaian,
ambisi-ambisi besar di kepalamu,
dan di kepala kawan-kawanmu?

Karena aku lapar,
Bapakku pun lapar,
asal kau tahu

Pinjamkan aku dua sen-mu,
kan kutunjukkan cita-citaku dan Bapakku:
sebungkus nasi campur batu

Manusia mati tanpa harapan, tak peduli berapa banyak nyawa masih menggelayuti jantungnya. Maka ketika malam ini kulihat kembang api tahun baru berpecahan di angkasa, aku senang. Entah berapa kali sudah kulihat nyala kembang api, tapi aku senang. Kupikir ini suatu keajaiban, sebab jutaan orang yang tak saling mengenal mengucapkan harapan-harapan mereka di saat bersamaan, dari berbagai tempat — termasuk dari atap-atap rumah.

Terkutuk mereka yang mabuk-mabukan di saat kami mengucap harapan. Dungu mereka yang menyulut kembang api demi orang lain bergembira, sementara benaknya sendiri luput dari mencamkan impian dan ikrar-ikrar baru.

Selamat tahun baru!