Kami memanggilnya “Abah”. Istri Abah kami panggil “Ummi”. Tapi bagi kami, murid-muridnya, Abah dan Ummi lebih seperti kakek dan nenek kami.
Meski aku bukan Nahdiyyin, tapi sudah sejak kecil aku belajar ngaji di rumah Abah. Murid-murid Abah banyak, dari anak kecil yang baru sekolah hingga guru-guru ngaji yang telah bergelar haji –berasal dari berbagai tempat di Jakarta dan luar Jakarta. Dulu, Abah mengajar dengan berkeliling kampung-kampung Betawi. Namun, sekarang murid-muridnya lah yang datang ke rumahnya, sebab usia sudah tidak memungkinkannya untuk berpetualang lagi.
Jadwal mengajar Abah begitu padat. Mulai dari pagi, di saat kebanyakan dari kita baru mengambil nasi untuk sarapan, hingga menjelang tengah malam. Ini membuatku terkadang malu sebagai pemuda yang masih gemar melewatkan banyak waktu dengan bersantai.
Jadwalku mengaji dengan Abah ialah setiap malam Minggu, bersama adikku dan Faisal, teman kami. Kami belajar membaca Al Qur’an, menyimak tafsir/nasihat Abah, lalu membaca kitab-kitab Melayu, mulai dari Babul Minan, Perhiasan Bagus, Tajwid, Mukhtasor Jiddan, Matan Kailani, dll. Setiap kami tiba, biasanya Abah masih berada di kamarnya untuk berdzikir ba’da Isya’. Tapi kami terbiasa langsung masuk tanpa perlu menunggu izin empunya rumah. Tempat kami mengaji berupa sebuah ruang lega dekat pintu masuk. Di sanalah kami menunggu Abah dengan membuka-buka kitab dan Al Qur’an, ataupun saling mengobrol dengan suara hampir berbisik.
Selesai berdzikir, Abah akan keluar menemui kami. Kami pun berdiri menghampirinya untuk mencium tangannya. Jangan bayangkan sosok seorang Nahdiyyin yang terkesan angkuh ketika dicium tangannya, sebab Abah tidak seperti itu. Sambil kami mencium tangannya, Abah selalu berkelakar, dan tidak jarang menggoda salah seorang di antara kami. Begitulah pertemuan dengan Abah diawali: selalu dengan bercanda hangat. Setiap Abah melucu, kami tertawa meski kadang terpaksa demi menghargai beliau
.
Mungkin aku tergolong murid yang bandel. Aku malas mengaji, itulah sebabnya banyak ilmu dari Abah yang tidak aku kuasai. Setiap waktu mengaji tiba, Ibu harus selalu memaksaku. Aku pun berangkat mengaji dengan perasaan berat. Namun, terkadang aku berhasil mengelabui Ibu dengan berpura-pura tidur.
Meski begitu, saat tiba di rumah Abah perasaan malas biasanya lenyap. Bahkan, setiap selesai mengaji, aku merasa bersemangat dan berjanji minggu depan tidak akan malas-malasan lagi untuk berangkat mengaji. Namun, seperti yang bisa kalian duga, janji itu tidak pernah bisa ditepati
.
Pengalaman hidup Abah telah memberi inspirasi, bahwa jangan takut lapar dengan mengajar. Sejak usia muda (kalau tidak salah 20-an tahun) Abah telah mengajar. Pekerjaan duniawi Abah saat itu hanyalah menjual sabun batangan ke tetangga-tetangga dengan jumlah yang bisa dihitung jari. Tapi Abah tidak pernah kehabisan uang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Logika tidak pernah berhasil menjawab bagaimana keuntungan penjualan sabun batangan itu bisa menutupi pengeluaran Abah sekeluarga.
Sekarang Abah sudah memiliki dua rumah kontrakan. Anak bungsunya pun sudah tamat kuliah dan bekerja. Dua orang cucunya (temanku bermain bola sewaktu kecil) kini menjadi polisi dan akuntan di Jakarta.
Saat aku SMP, keluargaku sempat tinggal di salah satu rumah kontrakan Abah. Karena sekolahku siang, setiap pagi aku tinggal sendiri di rumah itu, sedang orangtuaku bekerja dan adikku sekolah pagi. Abah terkadang menemaniku dengan mengajariku melukis menggunakan cat air. Terkadang hasil lukisan kubawa ke sekolah untuk dinilai guru. Namun sejak kuliah di luar kota, jarang sekali aku bertemu Abah. Aku masuk mengaji hanya sesekali saat pulang ke Cipinang.
Kebetulan Sabtu kemarin ada kesempatanku untuk mengaji. Saat itu rasanya seperti melihat Abah untuk pertama kali. Aku mengagumi hal-hal pada diri Abah, yang dulu kuanggap biasa saja. Di mataku Abah berwibawa, padahal seringkali beliau bercanda dan tertawa dengan orang-orang yang jauh lebih muda dan ilmunya jauh lebih dangkal.
Di Sabtu itu pula, ketika pengajian hendak berakhir, aku mendengar pengakuan Abah bahwa sebenarnya fisiknya sudah letih mengajar begitu banyak orang. Tapi Abah tidak sampai hati berhenti mengajar. Katanya, “Sekarang saja Abah mengajar, umat Islam masih lemah. Apalagi kalau Abah tidak mengajar?”
Pada kesempatan itu juga Abah mengungkapkan penyesalannya akan guru-guru mengaji saat ini. Katanya, guru-guru ngaji sekarang kebanyakan hanya mengajarkan rebana[1] atau qasidahan[2]. Kalaupun tidak, kebanyakan guru mengaji hanya mengajarkan ilmu secara satu arah, dengan menjadikan murid-muridnya pendengar pasif. Itulah antara lain alasan Abah tetap ingin mengajar banyak orang hingga sekarang.
Meski kini ada pemikiran-pemikiran Abah yang berbeda dari pemikiranku, tetapi penghargaan dan kekagumanku kepada Abah tidak pernah berkurang. Aku terus berpikir untuk bisa memberi sesuatu kepada Abah, guru ngaji sekaligus kakekku itu. Meski tidak akan sebanding dengan apa yang telah Abah berikan kepadaku sekeluarga, tetapi ingin rasanya suatu hari nanti aku menghadiahi Abah ongkos ke Ka’bah.
[1] Alat musik tradisional untuk mengiringi nyanyian-nyanyian islami
[2] Qasidah kurang-lebih artinya nyanyian tradisional islami (populer di kalangan Nahdiyyin)